HalalBoss, Salah Satu Pilihan Kuliner Timur Tengah di Surabaya

 

Salah satu hal yang saya kangeni sejak pandemi adalah bisa bebas wisata kuliner tanpa rasa khawatir. Entah kapan bisa menikmatinya lagi. Huft😔

Kalau mau nekad sih, sebenarnya masih bisa. Meski harus super teliti memilih lokasi yang sekiranya protokol kesehatannya jalan dan pengunjungnya sepi. Dulu nih, sebelum pandemi, salah satu kriteria tempat makan yang suka saya coba adalah kalau pengunjungnya rame. Either dia murah atau makanannya enak. Bahkan bisa dua-duanya. Ya tho?!😜

Tapi sejak pandemi, malah kebalikannya. Belanja di supermarket yang paling sepi dan jam paling nggak masuk akal buat belanja. Wisata kulineran juga di jam yang sekiranya bukan jam makan atau cari yang sepi. Halah.

Adalah HalalBoss, salah satu tempat makan yang siang itu kami tuju untuk menyalurkan hasrat kulineran yang sudah menggebu-gebu. Tempat makan ini berlokasi di Mulyorejo, Surabaya Timur. Selemparan batu aja dari Kampus C Unair. Mengusung konsep Timur Tengah yang kental, sejak dari pintu masuk hingga ke suasananya. Tempat ini tidak begitu luas, jadi pengunjung pun dibatasi tidak terlalu banyak. 

 

Begitu masuk melalui pintu depan, kami langsung disuguhi lokasi dengan konsep lesehan. Sayangnya saat kami tiba lesehannya sudah direserved untuk pengunjung lain. Akhirnya kami masuk ke lokasi dengan meja kursi biasa. Vibes padang pasirnya dapat banget secara tempat ini punya jendela besar yang menghadap ke barat. Di saat jam menjelang sore begini panas dan silaunya mana tahan. Hahaha

Beruntung kemudian mas-mas nya berinisiatif memasangkan kain sebagai pengganti gorden. Lumayan lah.


Oiya, menu bisa scan barcode atau mengecek di akun IG HalalBoss. Semuanya menu ala Timur Tengah tentu saja. Kami memesan menu nasi biryani ayam, nasi kebuli kambing, minum mango yakut, milky kurma dan dessert oum ali. Dan seperti kebanyakan tempat makan lain saat pandemi pembayaran disarankan menggunakan emoney atau transfer.

 


Sembari menunggu pesanan kami tiba, kami mengobrol dan berfoto. Rumah makan ini benar-benar serius membangun suasana padang pasirnya. Ruangan sengaja tidak diaci, hanya finishing semen dan pasir kasar lalu dicat putih.
Ornamen-ornamen yang dipakai juga mendukung sekali dengan vibes ala Timur Tengahnya. Saya begitu terkesan dengan hiasan lampu dan pajangan dinding yang dililit benang macrame ini. Jadi beneran berasa lagi brunch bareng gengnya Ratu Cleopatra deh😅

Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk mengagumi konsep penataan di restoran ini hingga kemudian pesanan kami tiba. Kami bersembilan orang memesan dua menu rame-rame (nasi mandhi ayam mix biryani kambing dan nasi mandhi ayam) dan satu menu personal (nasi biryani kambing) untuk makanan, oum ali untuk desert dan mango yakult dan milky kurma untuk minum. Sebenarnya menu rame-rame 1 porsi disarankan untuk 3-4 orang. Tapi berhubung sebelumnya kami sudah makan siang, jadi seporsi dimakan untuk 5 orang juga masih sisa sih.


Setiap menu yang datang dalam piringnya disertai kondimen sambal, acar dan garnish daun parsley. Hal paling berkesan dari makanan yang disajikan adalah dagingnya empuk banget. Tipikal yang digigit pasrah tanpa ada perlawanan gitu lho. Bahkan disuwir pakai sendok dan garpu sudah bisa. Bumbu rempahnya juga berasa nendang. So far, approved. Untuk menu nasinya, saya pribadi lebih suka nasi mandhi daripada briyani. Mungkin karena aroma rempahnya tidak terlalu kuat. Jadi lebih bisa diterima oleh li
dah jawa ini.

Untuk sambalnya saya cuma mengincip sedikit karena too hot buat selera saya. Tapi saya suka banget dengan acarnya. Segar dan asemnya pas banget untuk menetralisir rasa thick dari rempah-rempahnya.

 

Saya surprise lho sama oum ali nya. Saya pikir yang datang dalam keadaan dingin. Bayangan saya bakalan nyess banget lagi siang nih panas-panas dapat desert yang adem di tenggorokan. Eh ternyata anget😅

Tapi enak kok. Cengkehnya berasa, hint kayu manisnya juga. Manisnya juga nggak terlalu menusuk yang bikin ngiung gitu. 



Saat pesan minum kami nggak kebayang sih bakalan pesan yang mana. Jadi minta rekomendasi sama mas waiters nya aja. Mungkin kalau dinikmati sendiri minuman yang kami pesan enak ya. Tapi karena menu makan dan desertnya udah berat, minumannya jadi makin eneg. Walaupun bisa dinetralisir pake air putih sih. Cuma kalau ke sana lagi bakalan ganti sih pesanan minumnya. Mungkin bakalan pilih yang lebih mild atau yang lebih seger. 


Overall HalalBoss asik juga buat sekedar makan sambil ngumpul bareng keluarga atau sahabat dekat. Makanannya enak dan sesuai dengan harga yang dibayar. Enggak overpriced. 

Saran aja mungkin buat pengelolanya, lahan parkir perlu ditambah kali ya. Jadi pengunjung yang datang nggak perlu jalan jauh buat parkir kayak kami kemarin. Padahal kami datang bukan di jam makan siang lho. 

Selebihnya, bolehlah dijadwalkan buat kapan-kapan mampir lagi. Ada yang mau ngajak? 🤪

Akhirnya Vaksin Juga!

Vaksin

Hampir 2 tahun sudah kita berjibaku berjuang bertahan hidup di tengah pandemi Covid19. Banyak hal yang terjadi. Aktivitas sosial dibatasi. Sekolah dari rumah, ibadah dari rumah, bekerja dari rumah bukan menjadi hal yang aneh lagi saat ini. Sebagian dari kita mungkin merasakan rasanya dirumahkan dari pekerjaan atau bahkan menjadi korban lay off. Sebagian yang lain harus kehilangan keluarga dan sahabat tercinta. Pandemi ini sungguh merenggut banyak hal yang kita miliki.

Sejak awal tahun 2021 pemerintah sudah mewacanakan pemberian vaksin untuk golongan masyarakat yang berisiko tinggi demi mempercepat proses herd immunity agar pandemi dapat segera teratasi. Meski sempat ada pro dan kontra namun proses vaksin berlangsung dengan cukup sigap. Di komplek saya yang notabene penghuninya mayoritas adalah lansia sudah hampir seluruhnya divaksin. Setiap hari ada saja pemanggilan jadwal vaksin dari pengurus RT dan RW kepada warga melalui grup whatsapp. Dan bersyukur sekali para warga menyambutnya dengan sukacita dan minim drama.

****

“Mas, di kantorku mau ada vaksin nih. Ikut nggak ya?” tanya saya pada suami. Kebetulan beliau sudah termasuk karyawan yang mendapatkan vaksin Sinovac tahap pertama dari kantornya.

“Aku takut efeknya deh” lanjut saya.

“Bismillah aja, niatkan buat membantu pemerintah menyelesaikan pandemi. Lagian kan kemarin pas general check up hasilnya bagus. Bismillah, nggak akan kenapa-kenapa” Jawabnya menenangkan.

Memang sih waktu dia divaksin tidak ada efek yang berarti. Cuma berasa ngantuk dan gampang lapar aja. Tapi kan vaksin yang bakal disuntikkan ke saya beda, Astrazeneca. Sedangkan teman lain yang udah divaksin pakai vaksin yang sama efeknya lumayan wow. Hasil browsing-browsing dari internet juga efeknya macam-macam tiap orang. *Ah, daku makin deg-degan🥶

Untuk proses pendaftarannya sendiri sedikit berbelit. Karena sebenarnya saya bukan termasuk kategori penerima vaksin di awal. Beruntung sekali akhirnya ada slot vaksin yang bisa kami pakai fasilitas dari holding. Jadwalnya pun sempat bergeser. Alhasil saya divaksin satu hari lebih lambat dari teman kantor yang lain karena saat jadwal vaksin saya sedang dapat jatah WFH.

Untuk kelengkapan vaksin ada beberapa dokumen dan blangko yang perlu diisi, yaitu Memo Vaksin yang berisi data diri dan keterangan jenis vaksin, dokumen skrining vaksin yang isinya daftar pertanyaan terkait kondisi  kesehatan calon penerima vaksin n satu lembar informed consent vaksin yang isinya kesediaan menerima jika terjadi kondisi KIPI dan penanganannya. Selain itu dilengkapi dengan fotocopy KTP 1 lembar.

Tanggal 29 Maret 2021 akhirnya saya mendapat jadwal untuk vaksin. Kami datang ke lokasi vaksin di ACC di kampus C pukul 10.00 pagi. Hamdallah kondisinya sangat tertib dan sepi. Kami datang berempat. Langsung menuju lokat pendaftaran dan pemeriksaan kelengkapan dokumen. Setelah itu ada 3 meja lagi yang kami lalui. Dari meja pendataan, skrining tensi dan pengumpulan dokumen. Di meja ke 4 kami akhirnya divaksin. Saya yang berhijab tidak perlu khawatir auratnya terbuka. Vaksinatornya perempuan dan kami divaksin di dalam bilik. Aman deh. Mbak-mbak vaksinatornya juga baik banget. Saya diajak ngobrol kesana kemari untuk menghilangkan nervous. Enggak sampai 3 menit proses penyuntikan berakhir. Ada pesan untuk siap parcet just in case nanti ada KIPI. 

Sambil menunggu sertifikat vaksin, kami diminta duduk selama 30 menit di tempat yang disediakan. Jangan khawatir, prokes ketat tetap jalan juga. 

Setelah 30 menit dan sertifikat jadi, kami diperbolehkan kembali ke kantor. 

Sampai di kantor, teman-teman yang vaksin kemarin pada KIPI. Ada yang demam sampe mukanya merah banget. Padahal ga sampe 38 dercel sih. Tapi ada yang cuma berasa pegal-pegal aja. 

Saya cuman ngegodain sedikit aja, eh pada sewot. 

"Ga usah godain mbak, rasain aja besuk gimana.. " 😵🤓

****

Emang ya kesombongan ditegur tunai sama Allah. Sore harinya saya langsung merasa demam. Bukan demam tinggi tapi lumayan bikin nggak nyaman. Keluhan lainnya badan pegal-pegal kayak habis olahraga berat, dan lengan bekas suntikan yang sakit banget. Hari kedua kondisi masih belum membaik, malamnya malah sempat muntah. Padahal besuk sore harus ke luar kota datang ke akad nikah saudara. Dalam kondisi yang masih belum terlalu fit, saya berangkat. Sayang baju seragam yang udah terlanjur dibeli dong😂🤣

Untungnya sampai lokasi dan menginap semalam kondisi membaik. Hari ke 4 setelah vaksin kondisi saya sudah benar-benar pulih. Alhamdulillah. 

Tinggal tunggu dosis kedua nanti tanggal 29 Mei 2021.

Semoga kita sehat-sehat semua ya.