Tuesday, 14 July 2009

Untukmu

Aku mencintaimu seperti mata air
Mengalirkan sebening sungai dari pegunungan
Takkan pernah hilang meski seluruh hutan terbabat gundul
Membuncah menyembur ke segala arah tanpa peduli hukum Archimedes
Menyalahi hukum bejana berhubungan milik Torricelli-Bernoulli
Apalagi hanya sekedar anomali
Aku mencintaimu saat menghirup dalam nafas tiap detiknya
Memenuhkan rongga paru-paru hingga sesak dadaku
Menjalari tubuhku bersama plasma-plasma darah yang mengikat tanpa henti
Mendistribusikan asupan oksigen untuk setiap organnya
Berdetak dalam aorta di pangkal leher, lengan dan pergelangan tangan
Muncratkan warna merah segar saat teriris tajam
Aku merinduimu hingga berputar-putar isi otakku
Sampai berderak tulang iga
Tak sanggup lagi menghembuskan nafas yang terlanjur kuhirup
Memerindingkan bulu rang di pangkal tengkuk
Mengalirkan ribuan liter isi kantung airmata
Menderaskan keringat dingin yang merembes di telapak tanganku setiap malam
Aku merinduimu sampai pekak telingaku
Menggema dalam ingatan dan berdentum-dentum dalam lambung
Mengiris-iris perih isi jantung
Mengaburkan pandangan mata, semakin kabur dan semakin kabur
Aku merinduimu dengan seluruh indra peraba
Ujung lidahku mendadak kelu, ujung jariku mati rasa
Aku merinduimu sampai pada titik yang tak sanggup lagi kukatakan
Yang tak ada lagi ibarat yang mampu mempersonifikasikan
Aku mencintaimu sepanjang waktu antara kelahiran dan kematianku
Menguasai tanpa bisa terkendali oleh kekuatanku
Semua begitu saja
Aku mencintaimu dengan seluruh sisi hidup dan duniaku
Dengan hati, otak, anggota badan dan relung-relung labirin terdalamnya
Aku merindumu
Saatnya kau kembali
Pulang pada pelabuhanmu
Karena disinilah rumahmu, di hatiku.
Read More

Wednesday, 1 July 2009

Virus Merah Saga

VIRUS MERAH JAMBU

Aku tidak tau sejak kapan aku merasakan perasaan ini. Tapi yang jelas, bayang-bayangnya mulai meloncat-loncat dalam pikiranku dan sulit untuk dikendalikan. Buktinya, saat kuliah tadi, semua apa yang dikatakan Pak Deni tak ada satupun yang kudengar. Padahal itu mata kuliah favoritku. Sampai-sampai kena teguran. Kan malu, ketahuan ngelamun di kelas. Gini-gini aku kan termasuk mahasiswa teladan.
Phufh…kepalaku kembali berdenyut. Ada janji sama anak BEM buat ngadain rapat pembahasan Sekolah Politik. Harus cepetan kesana sebelum Mbak Ulil si coordinator nyap-nyap!!
“Assalamualaikum Ukhti, jangan lupa nanti sore setengah empat ada kajian di masjid!”
Tersentak kaget, aku mendongak. Dia lagi! Duh,,Allah.. Seharusnya perasaan ini tidak perlu ada. Seharusnya namanya tidak terus-menerus menggaung di otakku, seharusnya…
Astaghfirullah, saking paniknya aku tidak sempat menjawab infonya, bahkan sekedar menjawab salamnya. “Alaykumsalam, insya Allah” kujawab dalam hati. Akhirnya.
Sudut mataku mengekor bayangan itu. Dia melangkah kearah parkir motor.

Read More

Je Ma Apelle….


-->
Namaku Florensi Mellia. Kata orang nama ini tuh bule banget,mungkin karena mirip sama nama kota di Italia, Florence. Tapi, menurut Ayah ibuku, nama itu diambil dari bahasa latin, flouresensi. Hua keren banget!! Maklum si bokap kan terobsesi sama yang berbau fisika gitu. Sayangnya, aku malah ilfil banget sama yang judulnya fisika. Hihi, ilfil karena otakku gak nyampe!!
Satu lagi, karena nama ini aku sering disangka Non Islam. Ato paling gak, muallaf lah. Padahal, aku lahir dan besar ditengah keluarga muslim taat lho. Pas SMP dulu, guru agama ku pernah salah sangka. Kan jadi di kelasku itu ada 5 orang yang non Islam. Pertemuan pertama pelajaran agama, beliau mengabsen siswa non Islam, supaya gak salah tunjuk gitu dech. Pak Guru bertanya,” Jadi di kelas ini siapa saja yang yang non muslim?”
Karena aku sekretaris kelas, aku menjawab.” Andre pak, Andrea Hariadi”

Read More