Saturday, 4 August 2018

Kelas Investarian 1 “Galau Investasi: Menabung atau Reksa Dana?”




Sejak follow akun salah satu financial planner di IG, hidup saya tidak tenang. Rasanya ada yang salah. Pengen belanja tapi eman-eman, pengen beli ini itu tapi sayang dan lain sebagainya. Ada sih tabungan yang belum seberapa itu, tapi apa cukup?


Kadang juga jadi kepikiran, ntar kalau udah pensiun gimana nih kita. Kami berdua bukan PNS yang bakalan seumur hidup dijamin pemerintah. Jadi yah kudu ada sesuatu yang disiapkan mulai sekarang buat bekal nanti di hari tua.


Kegaulauan itu terus berlanjut. Sampai kemudian datang tawaran dari Mbak Yuni, salah satu mama bloger hits di Surabaya.

“Mau ikutan kelas investasi ga, Flo..?”


Aw. Alhamdulillah. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Semesta mendukung.


Adalah kelas investarian yang digagas oleh Manulife Asset Management. Sedianya kelas ini akan dibagi menjadi 4 bagian. Kelas pertama sendiri dihelat di Bangi Kopi, hari Sabtu tanggal 28 Juli 2018 kemarin. Saya tentu saja dengan penuh semangat bertekad mengikuti kelas ini sampai selesai.
Mengosongkan gelas, menuntaskan rasa ingin tahu dan mengakhiri masa kegalauan.  


Nabung dan Investasi


Bersama pak Legowo, Presdir Manulife Assets Management, pelajaran berat ini terasa jauh lebih menyenangkan. Contoh dan analogi beliau begitu real dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.


Selama ini kita atau saya beranggapan bahwa menabung adalah salah satu upaya untuk mengamankan masa depan. Selama ini pula saya berpikir bahwa menabung di bank baik konvensional atau syariah selalu aman. Di kelas ini saya benar-benar seolah dihempaskan kembali ke masa lalu saat saya menekuni kelas manajemen investasi di jaman kuliah dulu. Iya, saya ini lulusan akuntansi. Dan buta masalah investasi. Duh, malu!


Guys, saya lupa pada yang namanya inflasi. Maling tak kasat mata yang diam-diam menggerogoti nilai uang kita. Misalnya nih, jika saat ini kita punya uang 50 ribu kita bisa membeli 5 kg beras. Apakah 20 tahun lagi 50 ribu yang ada di rekening itu mampu untuk membeli 5 kg beras? Itulah yang namanya inflasi. Emang pemerintah enggak bisa menghentikan laju inflasi? Hehe, selama alat tukar kita bukan emas/dinar inflasi akan tetap ada. Sudah ya, jangan bahas itu lebih lanjut. Nanti bakalan merembet ke teori uang dan lain sebagainya. Kita fokus ke investasi aja :D


Wait, emang bedanya apa sih antara menabung dan investasi?


Perbedaan utamanya adalah pada tujuannya. Jika menabung bertujuan untuk menyimpan maka investasi tujuannya adalah untuk mengalahkan inflasi.


Mau investasi di manapun kita selalu  perlu uang, pengetahuan dan waktu. You name it property misalnya.  Saham atau juga emas. What, emas? No ya. Emas bukanlah investasi. Emas itu alat lindung nilai, alias hedging. Tapi bukan investasi. Lantas buat yang masih newbie kayak saya, apa dong investasi yang tepat? Secara mau beli property duit masih cekak. Saham enggak ngerti ilmunya.

Hmm.. mungkin ini jawabannya.


Reksa Dana dan Cara Kerjanya


Secara umum pengertian reksa dana adalah program investasi yang menggabungkan modal dari banyak investor dan berinvestasi ke beragam bla..bla..bla...

Duh, ribet deh bahasanya.


Analoginya gini, reksa dana itu kayak arisan. Ada bandar 1 yang tugasnya ngumpulin duit dan belanjain duitnya dari anggota arisan. Bandar 1 ini dalam reksa dana namanya manajer investasi. Lalu ada bandar 2, tugasnya nyatat duit, namanya bank custodian. Bandar 1 dan bandar 2 ini enggak saling kenal, enggak sodaraan tapi mereka saling kontrol. Si bandar 1 alias manajer investasi diawasi ketat oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sedangkan bank custodian of course dibawah pengawasan Bank Indonesia.


Ada beberapa keunggulan investasi di reksa dana.

1.    Fleksibel, banyak pilihan produk sesuai kebutuhan investasi

2.    Liquid, gampang dicairkan kalau sewaktu-waktu butuh

3.    Aman, karena terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK tadi

4. Bukan obyek pajak. Jadi pas lapor SPT, potensi keuntungan dari reksa dana tetap dicantumkan di sisi harta tapi tidak termasuk pada penambahan pendapatan, gitu.

5.   Terjangkau. Investasi ini dimulai 10 ribu saja lho. Wow ngets yes!


Jenis produk/ unit reksa dana ada beraneka: Reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran dan reksa dana saham. Buat yang newbi disarankan pakai reksa dana pasar uang dulu. Karena makin ke belakang itu makin berisiko. Meski makin gede juga kemungkinan gain (keuntungannya).


Jadi kalau sudah siap berinvestasi, kalian bisa melakukan pembelian unit (subcription) ke unit yang kalian pengen. Ini dibantu oleh manajer investasi tadi. Karena pentingnya peran manajer investasi, kita kudu bener-bener memastikan kredibilitas dan sepak terjang si manajer. Jangan main iya-iya aja ya.


Setelah membeli unit, kalian akan mendapatkan laporan berkala tentang hasil fluktuasi nilai unit yang kalian punya. Naik atau turun tergantung gimana performance nya dia.


Jika kalian merasa telah cukup dengan performance unit kalian, dan kalian pengen mencairkan boleh aja. Dan silakan menikmati hasilnya.


Nah di antara waktu itu, kalian bisa lho switching dari satu unit ke unit yang lain. Kayak misal awalnya beli unit reksa dana pasar uang eh tiba-tiba pengen switch ke reksa dana pendapatan tetap. Bisa banget. Atau setelah switch ke reksa dana pendapatan tetap eh ngerasa ga cocok pengen balik lagi ke reksa dana pasar uang juga monggo. Hehehe.

Seru ya belajar tentang reksa dana? Saya sih yes *ga tau kalau mas Anang :D


Satu prinsip yang harus dipegang kalau mau berinvestasi ya guys, 
"High risk high return, low risk low return, no risk no return"

So, kalau sampai ada orang yang nawarin kalian investasi dengan iming-iming low risk tapi high return, percayalah itu pasti bodong. Udah, gitu aja.  

Buat kelas pertama ini baru segitu aja. Saya bakalan update tentang kelas Investarian yang 2 nanti in syaa Allah bulan September. Tapi kalau kalian ga sabar, kalian bisa kontak di www.klikMAMI.com. Ada mbak Lani eh Layanan Investasi yang ada saban hari pukul 08.00-22.00. 


Stay tune ya, happy investing investarian!


Read More

Thursday, 2 August 2018

Merokok Membunuhmu, Rokok Bikin Stunting Anakmu

pict from pixabay

Adakah orang di sekitarmu yang merokok? Orang tua, sodara, teman, pacar, suami? Perhatikan deh kebiasaan mereka. Hampir 80% dari responden *ah elah bahasanya responden* yang jadi korban pertanyaan absurd saya menyetujui bahwa rokok itu merugikan. Rugi dari sisi kesehatan dan rugi dari sisi ekonomi. Kok?
Beberapa kali saya meledek teman-teman saya yang merokok tentang kebiasaan merokok mereka. Mereka tahu itu bentuk rasa peduli dan kasih sayang ke mereka sih jadi ya ga ada yang marah. Yes, its a disclaimer manatau ada yang ga terima, hahaha. Lain ladang lain belalang bukan? Lain geng lain pula bentuk perhatiannya #ehgimana.
Back to topic ah!
“Udah tahu bikin penyakit dan merugikan, kenapa masih ngerokok sih..” Cuma ketawa nyengir.
“Dih, rokok kan bisa bikin impotent..” hm..hm.. angguk-angguk.
“Kebiasaan merokokmu itu bisa bikin anakmu stunting, tau!” rokoknya dimatikan dan ikutan gabung obrolan.
“Stunting apaan sih, Flo?!”

Hubungan Rokok dan Stunting pada Anak
Stunting maksudnya adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus dua (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah kurang.



Beberapa hari yang lalu, Rabu, 25 Juli 2018 ada sebuah siaran radio online yang menggelitik saya. Adalah Program Radio Ruang Publik KBR dengan tema Rokok Murah Sumbang Penyebab Stunting yang disiarkan di radio jaringan KBR.ID. Nah!
Ada 2 narasumber yang diwawancarai dalam siaran ini.
Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAKMPH sebagai Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Teguh Dartanto, PhD, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Dari kedua narasumber di atas saya menangkap beberapa informasi berdasar hasil penelitian yang mereka lakukan. Ternyata selama tahun 1993 hingga 2014, terjadi peningkatan pengeluaran anggaran rumah tangga untuk konsumsi rokok sebesar 2%. Sayangnya prosentase kenaikan itu bukan untuk anggaran makanan sehat yang berkaitan dengan zat gizi. Tapi lebih kepada konsumsi rokok.

Bahkan Pusat Kesehatan Jaminan Sosial Universitas Indonesia menemukan bahwa:
Anak dengan orang tua perokok ternyata mengalami berat 1,5 kg lebih rendah dari orang tua yang bukan perokok.
Anak yang dengan orang tua perokok ternyata mengalami tinggi 0,34 cm lebih pendek dari orang tua yang bukan perokok.
Ini bukan kata saya lho, ini kata penelitian. Dari sini saya mulai bisa mengambil benang merahnya. Saya enggak akan menjelaskan betapa bahayanya asap rokok jika terhirup oleh bayi dan anak-anak. Sudah terlalu banyak yang menjelaskan. Bahkan peringatan di bungkus rokok juga sudah ada dan sangat jelas.  Silakan cari sendiri saja deh berapa banyak bayi dan anak yang sakit bahkan *maaf* sampai meninggal karena terpapar asap rokok. Lebih miris lagi jika pelakunya dalah orang tuanya sendiri. Double miris dan gemas. Bagaimana tidak, sudahlah mereka tidak mendapatkan gizi yang cukup karena anggarannya lebih sering dipakai untuk merokok, daya serap terhadap gizi juga berkurang karena terpapar asap rokok.  

Petisi Rokok Harus Mahal
Lantas bagaimana solusinya? Dari beberapa solusi, saya sepakat sekali dengan solusi #RokokHarusMahal. Mungkin memang tidak bisa membabat habis para orang tua perokok, tapi setidaknya membuat mereka berpikir ulang untuk membeli rokok. Asumsi saya jika harga rokok mahal, setidaknya jika mereka memutuskan hendak merokok mereka punya cukup uang untuk memberikan kecukupan gizi kepada anak-anaknya dan membawa akses kesehatan jika *amit-amit* anak nya terkena dampak dari rokok yang dihembuskan orang tuanya.
Apa yang saya lakukan ini adalah salah satu cara untuk melindungi anak Indonesia dan upaya untuk mendukung anak Indonesia menjadi lebih sehat dan cerdas.  
Nah, kalau kamu setuju #RokokHarusMahal atau tertarik untuk bergabung dengan gerakan ini, kamu bisa ikut menandatangani petisi di www.change.org/rokokharusmahal.
Klik link nya ya!
  


Read More

Monday, 4 June 2018

Pak Ketut dan Travelingku ke Bali



Saya gelisah. Hari ini adalah hari ketiga kami bertandang ke Bali.  Nanti malam kami kembali ke Surabaya dengan penerbangan terakhir.  Sejak jumat pagi sudah banyak tempat yang kami kunjungi, tapi rasanya masih ada yang mengganjal di hati. 

"Pagi kita ke Dream Island, kamu bisa motret di sana. Abis gitu kita bisa belanja lagi di Krishna atau mampir lagi ke Joger.." Ucap si mas menekuri itinerary kami. 


Read More

Tuesday, 29 May 2018

My Daily Routine Skincare

Peralatan perang

"Forever 22.."
Itu adalah jawaban tiap ada yang nanya berapa umur saya. Biar dikata halu, EGP. Emang gue pikirin. Hahaha.

Sampai suatu hari saya merasa ada yang salah sama muka saya. Muka saya yang biasanya cuma bermasalah sama jerawat, itu pun cuma 1-2 biji aja menjelang period. Ini mendadak bruntusan semuka-muka. Sumpah, ngeri!
😭😭😭
Read More