Belajar Finance Berkat Diturunkan Paksa dari Angkot

Ada banyak hal dalam pola pengasuhan ayah dan ibu yang saya kagumi sampai sekarang. Salah satunya adalah cara beliau mendidik kami untuk bertanggung jawab secara keuangan semenjak dini. Sejak SMP ayah dan ibu mempercayakan pada saya untuk mengelola keuangan saya sendiri. Setiap awal bulan saya mendapatkan jatah bulanan. Saya harus mengelolanya sedemikian rupa untuk kebutuhan ongkos transport, karena saya sekolah naik bus, uang jajan dan uang makan siang kalau harus ikut bimbel. Termasuk juga jika ada kegiatan di kelas jika membutuhkan iuran-iuran atau untuk memenuhi hobi jajan majalah Bobo atau sewa novel goosebumps di rental buku dekat sekolah. Jadi yang dibayarkan oleh ayah ibu hanya uang sekolah (SPP) dan uang bimbel saja. Selebihnya diserahkan kepada saya untuk mengaturnya.

Tidak ada cerita jika jatah bulanan habis sebelum waktunya akan ada subsidi tambahan. Uang tambahan hanya ada jika di bulan itu ada penerimaan rapor dan nilai rapor saya ada angka 9 atau jika ada Bude, Pakpuh, Om atau Tante yang memberi uang saku buat saya. Itulah mengapa momen lebaran Idul Fitri selalu menjadi saat yang paling dinantikan. Tentu saja seperti anak lainnya, uang ‘angpau’ dari para orang tua membuat saya kecil merasa kaya mendadak. Haha:D

Sebenarnya saat itu saya cukup baik mengatur uang. Pepatah berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian sungguh saya terapkan dengan cermat. Awal bulan hidup super hemat, akhir bulan bisa foya-foya.

Saya selalu membawa bekal air putih dari rumah. Praktis jajan di sekolah hanya gorengan 2 biji dan es teh manis seplastik kecil. Jika sore hari saya harus ada bimbel, saya selalu membawa bekal makan siang sendiri. Meski yah seringnya hanya nasi lauk indomie goreng instan dan telur dadar. Maklum, ibu saya ibu bekerja. Waktu pagi adalah waktu yang sangat hectic bagi beliau jika hanya melayani rengekan saya untuk menyiapkan bekal. Bagi ibu, beli di kantin sekolah jauh lebih meringankan bebannya. Sebuah pilihan yang jika tidak terpaksa tidak akan saya terima. Demi akhir bulan bisa foya-foya. Haha.

Hingga suatu ketika, ada keadaan yang di luar kebiasaan. Saat itu di sekolah ada beberapa orang teman yang terkena musibah. Kami tentu diminta untuk memberikan sumbangan seikhlasnya. Tentu kami memberikan uang sumbangan lebih banyak dari biasanya. Begitupun saya. Akhirnya saya hanya menyisakan uang untuk ongkos naik angkot pulang di saku rok biru sebelah kanan. Toh nanti tidak ada jadwal bimbel. Pulang sekolah bisa langsung pulang, pikir saya. Tidak masalah dan saya tenang-tenang saja.

Saat pulang sekolah semua juga berjalan baik-baik saja. Angkot yang biasanya penuh sesak pun lumayan lengang. Ah sungguh hari yang menyenangkan.

Sampai kemudian satu-persatu penumpang angkot yang saya naiki turun. Tinggalah saya sendirian. Di tengah jalan, angkot yang saya naiki dihentikan orang. Entah ada apa. Rupanya angkot tersebut hendak disewa orang untuk membawa pasien ke rumah sakit. Alhasil, saya diturunkan paksa di tengah jalan. Jika itu terjadi pada saya di usia sekarang tentu saya akan melawan atau minimal minta uang ongkos saya dikembalikan. Namun, saat itu saya hanyalah anak perempuan kecil umur 13 tahun yang begitu dibentak supir angkot langsung mengkeret takut dan pasrah diturunkan di tengah jalan. Tanpa diberi ganti rugi atau pengembalian ongkos.

Jarak rumah masih sekitar 6-8 km lagi, baru separuh jalan. Saat itu saya sungguh kebingungan dan ingin menangis. Tidak ada solusi yang terpikirkan. Ingin rasanya menelepon ke rumah, atau naik angkot lain. Tapi mau bayar pakai apa, tidak ada uang sama sekali. Sambil terus berjalan kaki menyusuri jalanan dan menahan terik panas dan lapar. Saya sudah bertekad pulang jalan kaki, tidak ada pilihan lain. Sambil terus merapal doa semoga tiba-tiba ayah datang menjemput saya.

Ternyata Tuhan Maha Baik. Tidak lama saya berjalan kaki, ada orang yang saya kenal menyapa. Beliau tetangga di rumah. Dengan dibonceng motor, akhirnya saya bisa pulang sampai ke rumah.

Ibu saya kaget sekali begitu sampai rumah saya diantar tetangga tsb. Begitu melihat ibu, saya langsung lari menubruknya dan menangis keras. Rasanya campur-campur. Lega, marah, lelah, kesal semua saya tumpahkan ke ibu. Hilang sudah jaga image dan jaga gengsi yang sejak tadi saya pertahankan.

Setelah mendengar cerita saya sambil terisak-isak, ibu malah tertawa geli. Plis deh!

Tapi kemudian banyak nasihat yang beliau sampaikan kepada saya. Salah satunya yang saya ingat adalah pesan beliau untuk menyimpan sebagian uang di dompet yang saya bawa meski tidak ada keperluan. Uang itu tidak boleh dipakai untuk apapun kecuali jika sudah sangat teramat mendesak. Termasuk jika kejadian seperti tadi siang.

Pesan itu saya bawa hingga saya SMA. Selalu ada uang pecahan 50 ribu rupiah di lipatan STNK kelak ketika saya sudah membawa motor sendiri ke sekolah. Dan uang itu yang menyelamatkan saya jika tiba-tiba ban motor kempes atau kena paku atau bahkan kena tilang di jalan *plis yang ini jangan ditiru ya:D

Saat dewasa, saya baru tahu bahwa yang diajarkan oleh ibu saya adalah konsep dana darurat. Ibu saya memang tidak belajar ilmu finance. Tapi ternyata belasan tahun lalu ibu saya sudah memahami konsep itu bahkan dengan baik mampu mengajarkannya pada anak-anaknya. Sungguh keren.

Terima kasih Mi:*

1 comment

  1. aku dulu sering nggak bawa duit kemana mana, terutama kalau ke kantor, karena trauma dompet pernah dicuri
    tapi nggak enaknya kalau misal ban kempes kayak gitu, menyusahkan diri sendiri juga
    pernah lupa nggak bawa dompet pas beli bensin eceran, untung orangnya baik jadi aku pulang lagi

    ReplyDelete