Thursday, 2 August 2018

Merokok Membunuhmu, Rokok Bikin Stunting Anakmu

pict from pixabay

Adakah orang di sekitarmu yang merokok? Orang tua, sodara, teman, pacar, suami? Perhatikan deh kebiasaan mereka. Hampir 80% dari responden *ah elah bahasanya responden* yang jadi korban pertanyaan absurd saya menyetujui bahwa rokok itu merugikan. Rugi dari sisi kesehatan dan rugi dari sisi ekonomi. Kok?
Beberapa kali saya meledek teman-teman saya yang merokok tentang kebiasaan merokok mereka. Mereka tahu itu bentuk rasa peduli dan kasih sayang ke mereka sih jadi ya ga ada yang marah. Yes, its a disclaimer manatau ada yang ga terima, hahaha. Lain ladang lain belalang bukan? Lain geng lain pula bentuk perhatiannya #ehgimana.
Back to topic ah!
“Udah tahu bikin penyakit dan merugikan, kenapa masih ngerokok sih..” Cuma ketawa nyengir.
“Dih, rokok kan bisa bikin impotent..” hm..hm.. angguk-angguk.
“Kebiasaan merokokmu itu bisa bikin anakmu stunting, tau!” rokoknya dimatikan dan ikutan gabung obrolan.
“Stunting apaan sih, Flo?!”

Hubungan Rokok dan Stunting pada Anak
Stunting maksudnya adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus dua (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO.

Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah kurang.



Beberapa hari yang lalu, Rabu, 25 Juli 2018 ada sebuah siaran radio online yang menggelitik saya. Adalah Program Radio Ruang Publik KBR dengan tema Rokok Murah Sumbang Penyebab Stunting yang disiarkan di radio jaringan KBR.ID. Nah!
Ada 2 narasumber yang diwawancarai dalam siaran ini.
Dr. Bernie Endyarni Medise, SpAKMPH sebagai Ketua Satuan Tugas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Teguh Dartanto, PhD, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Dari kedua narasumber di atas saya menangkap beberapa informasi berdasar hasil penelitian yang mereka lakukan. Ternyata selama tahun 1993 hingga 2014, terjadi peningkatan pengeluaran anggaran rumah tangga untuk konsumsi rokok sebesar 2%. Sayangnya prosentase kenaikan itu bukan untuk anggaran makanan sehat yang berkaitan dengan zat gizi. Tapi lebih kepada konsumsi rokok.

Bahkan Pusat Kesehatan Jaminan Sosial Universitas Indonesia menemukan bahwa:
Anak dengan orang tua perokok ternyata mengalami berat 1,5 kg lebih rendah dari orang tua yang bukan perokok.
Anak yang dengan orang tua perokok ternyata mengalami tinggi 0,34 cm lebih pendek dari orang tua yang bukan perokok.
Ini bukan kata saya lho, ini kata penelitian. Dari sini saya mulai bisa mengambil benang merahnya. Saya enggak akan menjelaskan betapa bahayanya asap rokok jika terhirup oleh bayi dan anak-anak. Sudah terlalu banyak yang menjelaskan. Bahkan peringatan di bungkus rokok juga sudah ada dan sangat jelas.  Silakan cari sendiri saja deh berapa banyak bayi dan anak yang sakit bahkan *maaf* sampai meninggal karena terpapar asap rokok. Lebih miris lagi jika pelakunya dalah orang tuanya sendiri. Double miris dan gemas. Bagaimana tidak, sudahlah mereka tidak mendapatkan gizi yang cukup karena anggarannya lebih sering dipakai untuk merokok, daya serap terhadap gizi juga berkurang karena terpapar asap rokok.  

Petisi Rokok Harus Mahal
Lantas bagaimana solusinya? Dari beberapa solusi, saya sepakat sekali dengan solusi #RokokHarusMahal. Mungkin memang tidak bisa membabat habis para orang tua perokok, tapi setidaknya membuat mereka berpikir ulang untuk membeli rokok. Asumsi saya jika harga rokok mahal, setidaknya jika mereka memutuskan hendak merokok mereka punya cukup uang untuk memberikan kecukupan gizi kepada anak-anaknya dan membawa akses kesehatan jika *amit-amit* anak nya terkena dampak dari rokok yang dihembuskan orang tuanya.
Apa yang saya lakukan ini adalah salah satu cara untuk melindungi anak Indonesia dan upaya untuk mendukung anak Indonesia menjadi lebih sehat dan cerdas.  
Nah, kalau kamu setuju #RokokHarusMahal atau tertarik untuk bergabung dengan gerakan ini, kamu bisa ikut menandatangani petisi di www.change.org/rokokharusmahal.
Klik link nya ya!
  


0 komentar:

Post a Comment