Pak Ketut dan Travelingku ke Bali



Saya gelisah. Hari ini adalah hari ketiga kami bertandang ke Bali.  Nanti malam kami kembali ke Surabaya dengan penerbangan terakhir.  Sejak jumat pagi sudah banyak tempat yang kami kunjungi, tapi rasanya masih ada yang mengganjal di hati. 

"Pagi kita ke Dream Island, kamu bisa motret di sana. Abis gitu kita bisa belanja lagi di Krishna atau mampir lagi ke Joger.." Ucap si mas menekuri itinerary kami. 


Tumben banget dia ngasih waktu khusus buat istrinya ini motret dan belanja. Pasti karena dari Subuh muka saya udah ditekuk ga enak dilihat. Semacam sogokan supaya saya semangat lagi. Sayanya? Cuma mengangguk mengiyakan. 

****

Pantai Dream island terletak di kawasan Mertasari Sanur, tepatnya di jalan Tirta Empul, Sanur, Bali. Hari itu sebenernya cuaca enak banget. Agak mendung. Ga terik banget. Di Dream island juga ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan.  Berenang, main ayunan, main water sport, makan di pinggir pantai, spa di cottage yang berjajar di tepi pantai hingga naik kuda dan unta. Tak ketinggalan banyak spot foto yang bisa dieksplor. Saya pun sudah dapat beberapa foto yang lumayan. Lumayan saja. Karena sekali lagi, saya sedang tidak in a good mood. 

Saat asyik menikmati mendung yang menggantung di bibir pantai , perhatian saya tiba-tiba teralihkan pada seorang bapak setengah baya. Awalnya saya kira beliau sedang mengeruk pasir untuk menanam bakau. Tapi setelah diperhatikan, ternyata tidak. Beliau membawa peralatan memancing.

"Lagi ngapain pak?" 

Berawal dari sapaan itu, kemudian meluncurlah percakapan hangat di antara kami.

Pak Ketut namanya. Tinggal tidak jauh dari pantai Dream Island, beliau adalah satu dari sekian pemancing tradisional yang tersisa di Bali. Awalnya beliau terkesan tertutup dan antipati. Namun bersyukur sekali kemudian lambat laun beliau bersedia banyak bercerita. 

Mulai dengan kisahnya mencari umpan untuk memancing di laut. Di usianya yang tidak muda lagi ternyata pak Ketut termasuk giat bekerja. Memancing dijadikannya sebagai sarana menambah penghasilan keluarga. 

Kemudian obrolan bergeser tentang Bali dan perubahannya. Tentang bangganya kepada Bali karena tanah kelahirannya itu mendunia. Juga tentang getirnya mulai tersisih dari hingar bingarnya Bali dengan segala gemerlapnya. Ternyata pak Ketut adalah salah satu dari banyak potret masyarakat asli daerah yang menjadi terasing di tengah kemakmuran wilayahnya. Gemerlap Bali memang belum mampu menjamin seluruh penduduk lokalnya mengecap kemakmuran. Ironis memang. 

Pernah dengar tentang aksi beberapa traveller yang menolak bercerita pada publik tentang lokasi wisata indah yang disukainya dengan alasan menghindari over publicity? Mungkin ini adalah salah satu pertimbangannya. Kesiapan publik dan yang lebih penting kesiapan penduduk lokal untuk mengahadapi gempuran modernitas sebagai akibat dari publisitas media. 

Tidak dapat dipungkiri memang, modernisasi pasti berdampak. Positif dan negatif. Tinggal dari sudut mana kita membaca. Dan di sisi mana keberpihakan kita. 



****

Rangga pernah bilang ke Cinta di salah satu adegan film AAdC 2, " Ada perbedaan mendasar antara liburan dan traveling. Saat liburan, orang membuat perencanaan yang baku, itinerary, kenyamanan, kemudahan dan kesenangan. Sedangkan saat traveling semua lebih mengalir, lebih spontan. Jika tujuan dari liburan adalah destinasi, maka saat traveling tujuan kita adalah proses itu sendiri".

Dan sepertinya saya baru menyadarinya. Selama ini yang saya butuhkan bukan liburan, saya perlu traveling. Belajar untuk menemukan hal-hal yang kadang nampak sederhana namun sarat makna. 

Pertemuan dengan pak Ketut di penghujung kunjungan ke Bali memberikan banyak arti. Tanpa sadar senyum kembali terukir di bibir saya. Seakan ada yang hilang kemudian ditemukan kembali. Bukankah esensi dari perjalanan memang untuk ini?
Menemukan pelajaran untuk bekal kembali pulang. 

Matur suksma pak Ketut, semoga Tuhan memberkati.

5 Comments

  1. Aku selama ini termasuk traveling dong ya, versi Rangga, hahaha.

    Tapi bener sih, aku kalo jalam-jalan jarang banget pake itinerary. Mengalir ngikut peristiwa yang akan kami alami selama dalam perjalanan. Kadang jadi pengalaman yang tak terlupakan

    ReplyDelete
  2. Hahaha. Rangga Rangga, aku inget tuh pas Rangga bilabg kalimat itu pas di rumah tua itu kan ya. Hahaha.

    Aku jadi kepo, Pak Ketut cerita apa saja sih, Mbak?

    ReplyDelete
  3. Hm, saya jadi ikut merenung...apa sebenarnya yg saya butuhkan saat ini..liburan, atau traveling? hehe.. TFS mbak...

    ReplyDelete