Friday, 8 December 2017

Belanja tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah



Belanja Tanpa Nyampah, Pilah Sampah itu Mudah

Akhir November kemarin, Surabaya dikepung banjir. Info dari Suara Surabaya sekitar 75% wilayah Surabaya terendam. Sedih dan geram. Gang depan masuk komplek, air menggenang setinggi paha orang dewasa. Air masuk ke rumah. Agenda nguras rumah jadi tak terelakkan. Sebenarnya warga Surabaya utara kayak kami sudah ga asing lagi memang dengan banjir. Tapi dari tahun ke tahun kok makin parah ya. Padahal kalau dilihat-lihat taman di Surabaya makin baik. Sayangnya banjir justru makin meluas ke mana-mana. Tanya kenapa.  

Jaman kita SD dulu tentu akrab dengan ajakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Supaya ga banjir. Saya kadang bingung sudah buang sampah pada tempatnya lantas tiap tahun tetap saja diteror banjir. Salah? Enggak juga. Karena ternyata produksi sampah kita tuh banyak banget. Menurut penelitian setiap tahun Indonesia memproduksi 65,8 juta ton sampah. Lebih mirisnya lagi kita juga ikut menyumbang 1,29 MMT (million metric ton) sampah plastik yang notabene susah diurai, ke laut setiap tahun.


Ga percaya? Coba cek tempat sampah masing-masing di rumah. Sehari aja pernah ga kita enggak nyampah. Mulai sampah yang gampang di urai kayak tulang ayam atau ikan, daun dan kertas bekas sampai yang perlu ribuan tahun untuk diurai, botol minuman ringan atau bungkus snack ciki-ciki *sodorin kaca, malu.

Makin parah karena sampah di rumah kita ternyata ga pernah dipilah. Plung-plung aja gitu langsung masuk. Ga usah yang ribet sampah dipilah sampai 7 macam kayak di Jepang. Pilah yang organik dan nonorganik aja enggak. Iya apa iya? #selftoyor

Kampanye Pemilahan Sampah oleh Unilever dan Hypermart

Bu Agnes dan Pak Abraham
Berawal dari kegelisahan itu pas banget tanggal 2 Desember 2017 yang lalu ditawarin buat datang di acara yang dihelat oleh Unilever bekerja sama dengan Hypermart. Mengundang perwakilan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga perwakilan dari Aprindo (Assosiasi Pengusaha Retail Indonesia) wilayah Indonesia Timur.
Ibu Agnes Gusti dari Kementrian lingkungan hidup dan kehutanan menyampaikan info tentang jumlah sampah yang ada di Indonesia sudah over limit. Sampah dari rumah tangga kita sudah sampai ke laut.
Kalau terus begini bagaimana mungkin menciptakan kota yang bersih dan sehat. Jauh panggang dari api. Kita harus berbenah.
Bukan cuma saya, kamu atau kalian.
Kita.

Bapak Abraham Lindung dari Aprindo menyambut baik ajakan pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah. Beliau mencontohkan tentang kampanye kantong plastik berbayar. Kenyataannya kampanye kantong plastik berbayar selama ini kurang efektif karena pada dasarnya hal pertama yang perlu diubah adalah pola pikir masyarakat. Percuma dibuat berbayar kalau pada dasarnya emang belum tergerak. Beliau juga berjanji bahwa Aprindo siap mendukung 100% program-program yang digagas pemerintah untuk mengurangi produksi sampah yang sulit diurai.

Bu Maya dan Pak Denny
Unilever dengan Program Pemanfaatan Sampah Non-Organik
Adalah ibu Maya Tamimi selaku Head of Environment and Sustainability dari Yayasan Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa untuk mengatasi permasalahan sampah perlu kerjasama dari berbagai pihak utamanya untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah. Dan rumah tangga sebagai skala terkecil menjadi tujuan jangka pendeknya.
Komitmen menarik juga diungkap Unilever melalui Unilever Sustainable Living Plan (USLP). Sebuah strategi untuk mengurangi jejak lingkungan yang ditimbulkan sekaligus meningkatkan dampak sosial bagi masyarakat. Target di 2025 seluruh kemasan plastik Unilever akan dapat didaur ulang, digunakan kembali atau diurai. We’ll see.

Ada Dropbox, Buang Sampah di Hypermart
Menyambut gagasan Unilever, Bapak Danny Kojongian sebagai Corporate Communications Director & Corporate Secretary PT. Matahari Putra Prima Tbk, menyampaikan dukungannya dengan menyediakan dropbox di beberapa gerai Hypermart di Surabaya. Tujuannya untuk menarik konsumen Hypermart untuk membuang sampah kemasan plastik mereka di dropbox. Ada reward menarik untuk konsumen yang bersedia berpartisipasi. Dropbox yang disediakan Hypermart dibuat terpisah untuk beberapa jenis sampah plastik demi mengedukasi masyarakat bahwa memilah sampah itu mudah. 


membuang sampah kemasan di dropbox

contoh pengolahan limbah plastik menjadi trashion

Sampah kemasan plastik yang telah terkumpul akan disalurkan kepada jaringan bank sampah binaan Unilever untuk diolah menjadi trashion atau disalurkan kembali kepada industri daur ulang.
Fyi, Unilever bersama mitranya telah memiliki pabrik pengolahan sampah berbasis teknologi Creasolv di Sidoarjo. Plastik fleksibel dapat didaur ulang menjadi bahan baku kemasan sachet dan pouch.

pengelolaan sampah perlu kerjasama semua pihak
Nah dengan adanya kerjasama ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah sampah dengan cara yang paling mudah. Memilah sampah dari lingkup paling kecil, rumah tangga. 

So, you wanna join?  

0 komentar:

Post a Comment