Monday, 25 April 2016

Mulutmu Harimaumu

sumber dari sini

Masih ingat kasus mbak Flo dari Jogja yang ngomel-ngomel di pom bensin? Atau yang paling gress adalah kasus dek Sonya yang 'menandai' ibu Polwan sewaktu ditegur karena ugal-ugalan di jalan. Yup, itulah contoh hal-hal yang jamak terjadi di negara kita yang kemudian menjadi viral dan luar biasa dampaknya karena pengaruh sosial media.
Mengapa jamak? Karena memang kejadian perlakuan yang tidak 'adil' di pom bensin pun pernah saya alami. Dan soal 'membawa' nama keluarga, siapa yang pernah nyaris ditilang kemudian lolos karena 'membawa' nama orang penting? Entah itu beneran keluarga, tetangga atau bahkan hanya kenalan. Sudah, ngaku aja.. hehehe :D
Hal itu menjadi berbeda ketika sudah masuk ke dunia sosial media. Beragam orang menanggapi dan tentu kita akan sulit mengendalikan persepsi publik. Berbagai komentar pun kemudian menambah 'panas' cerita, melebar kemana-mana.
Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu. Sebutlah teman saya, A, seorang pengajar di sebuah universitas di Surabaya. Beliau mengunggah sebuah foto di media sosial disertai caption yang mempertanyakan layanan suatu instansi pemerintahan. Karena pada jam tersebut ruangan kosong. Saya memiliki teman lain, sebut saja B, yang kebetulan bekerja di instansi tersebut. Saya sampaikan bahwa si A bermaksud mengurus sesuatu dan dia menunggu karena ruangan pelayanan kosong, beserta screen capture dari media sosial A. Si B menjawab mereka sedang ada sosialisasi di atas dan A disarankan menunggu di resepsionis. A menyampaikan persetujuan dan kemudian menunggu dengan tenang. Semua terlihat wajar dan baik-baik saja.
Sampai kemudian A dilayani oleh pejabat yang berwenang setelah sebelumnya dimarahi dengan cukup keras karena menyebarkan berita tsb ke media sosial. A kaget tentu saja, karena menurut A apa yang ditulisnya bukanlah hal yang mengandung tuduhan. Persepsi kedua belah pihak berbeda. Usut punya usut ternyata B menyampaikan foto capture itu kepada seniornya dengan tujuan sang senior akan menghubungi pihak yang bertugas dan entah bagaimana senior tersebut menyampaikan kepada atasannya. Yang pasti pejabat tersebut khawatir apabila status tersebut terbaca oleh pihak pengawas dari instansi yang bersangkutan.
Duh, saya kaget. Sebesar itu kah efek dari sebuah viral?
Pelajaran ini berharga sekali buat semua. Bagi saya pribadi, ternyata niat baik saya untuk membantu tidak selamanya bisa berdampak baik. Kadang dengan cara penyampaian yang kurang tepat malah menimbulkan persepsi yang sama sekali berbeda. Saya harus lebih berhati-hati jika ingin berbagi sesuatu. Saring dulu sebelum dishare. Apabila dulu saya mengenal pepatah mulutmu harimaumu, rasanya hari ini saya belajar tentang pepatah baru, jempolmu aumanmu.

0 komentar:

Post a Comment