Sunday, 25 May 2014

3M

pict from here
Tadi pagi, saya menghadiri majelis pernikahan salah seorang teman baik saya, Ulfa, di asrama haji. di sela-sela aktivitas saya sebagai fotografer tukang poto, ada sebuah nasihat dari pihak mempelai wanita buat Ulfa terutama, dan secara umum buat para (calon) istri di majelis tadi, yang masuk banget ke saya. nasihat yang sudah ga asing lagi buat saya, cuman hari ini rasanya jadi #makjleb banget. sebuah filosofi perempuan jawa yang dulu saya sempet mempertanyakan validitasnya.
Syarat tercapainya keluarga yang ASMARA, assakinah mawaddah dan rahmah adalah istri yang memenuhi 3M. Masak, macak dan manak.
Tendensius? saya juga awalnya merasa hal yang sama. Kenapa peran seorang istri dikerdilkan menjadi cuma urusan domestik macam itu? Take a breath first, jangan keburu esmosi dong ah:D

kita kupas satu persatu. 
Masak. 
masak bukanlah sekedar tentang membuat makanan, mengolah bahan mentah menjadi makanan matang yang siap disantap seluruh keluarga. memasak adalah proses, proses memahami selera suami, kegemaran suami. proses yang panjang tentang pemahaman istri bagaimana mengatur uang belanja agar tetap bisa menyediakan makanan yang sehat dan enak bagi keluarga. masak adalah ujian kesabaran sekaligus tantangan bagi seorang istri untuk selalu mampu memberikan pelayanan terbaik pada keluarga. istri yang pandai memadu padankan berbagai bumbu masak, mengolahnya menjadi lezat diharapkan mampu juga membawa filosofi tersebut dalam kehidupan berumah tangga. ilmu tentang bagaimana meracik perbedaan pendapat antara suami-istri agar tetap sesuai porsinya, mengelola perbedaan yang ada tsb menjadi 'hidangan' yang indah, yang membuat kehidupan pernikahan menjadi semakin barakah.

Macak. 
Pria jatuh cinta lewat mata, sedangkan wanita jatuh cinta lewat telinga. Dandan dalam hal ini bukan sekedar urusan fisik. iya, sangat penting seorang istri tetap berdandan meskipun anaknya udah 3, masi balita semua. yang repotnya naudzubillaah.... tapi, istri selalu harus terlihat bersih, cantik dan wangi untuk suami. macak juga dalam urusan kepribadian. 
dulu saya pernah berprinsip bahwa saya ga bakalan mentolerir pasangan yang menuntut saya untuk berubah. saya tetep mau jadi diri saya sendiri, bukan jadi orang lain yang memakai topeng. prinsip itu ga salah memang, tapi perlu dikoreksi. 
pasangan yang sehat adalah pasangan yang bertumbuh. seiring dengan perjalanan hidup manusia, semua orang dengan maupun tanpa mereka sadari mereka berubah. saya contohnya. pas pertama kali kuliah, hasil psikotes saya menunjukkan bahwa saya adalah seorang melankolis koleris. sekarang2 ini, saya totally sanguin koleris. berubah kan? lingkungan, pergaulan, bahan bacaan, tontonan, segala hal yang ada disekitar saya merubahnya. dan belakangan saya berdamai dengan solusi yang tepat. menjadi diriku sendiri yang terbaik. the best of me:))
macak juga berarti menjaga kesehatan. uang tanpa kesehatan tiada artinya. itu tagline di puskesmas deket rumah uti yang saya inget jaman saya kecil dulu :D

Manak.
salah satu tujuan dari menikah adalah untuk melestarikan keturunan, itu yang saya baca di sebuah buku, Di Jalan Dakwah Aku Menikah. 
Ada juga kan hadist nya kalo ga salah, anjuran dari Rasulullah untuk umat muslim agar memilih istri yang diperkirakan mampu memberikan keturunan yang banyak. 
namun, ada juga pasangan yang menikah sudah puluhan tahun namun belum dikaruniai anak dan masyaaAllah tetap romantis dan bahagia. karena punya anak itu ga sama kayak ngerjain tesis. asal dikerjain rajin, rajin bimbingan, rajin membaca, rajin ngadep dosen, sunatullah cepet lulus. punya anak itu ada faktor X, takdir Allah yang sangat besar pengaruhnya. mau dipaksakan kayak gimana juga, kalo Allah belum berkehendak ga akan kejadian.
jadi, ga usah sok2an kepo nanya2 kok blom hamil, blom isi, padahal nikahnya udah lama, dst. ngasih anak itu murni hak prerogatifnya Allah. ente mo protes?!

kenapa cuma istri yang dituntut macem2? karena seperti yang udah saya sebutin diatas, ini adalah nasihat dari pihak mempelai wanita, which is nasihatnya emang buat mempelai (dan calon mempelai) wanita. begonooo...
ada juga sih nasihat bwt mempelai prianya. tapi pas ituuu...pas ituuu...mmm...saya ga ndengerin keknya. sibuk ngeliatin hasil jepretan. mhihihihi:D

tapi, ada sebuah konklusi yang bagus banget menurut saya, dari guru ngaji pas kami mendapatkan materi tentang fiqh munakahat (fiqh pernikahan)
Menikah itu bukan tentang bagaimana menuntut hak, tapi menikah adalah tentang bagaimana kita memenuhi kewajiban.

0 komentar:

Post a Comment